←
Kembali ke News
Kecelakaan antara KRL vs KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Senin malam (27/4). yang menewaskan 14 korban jiwa telah menjadi perbincangan publik. Kini Publik memperdebatkan perihal kegagalan teknologi keselamatan.
Kalau ditarik sedikit ke belakang, kejadian ini tidak berdiri sendiri.
Sebelum tabrakan terjadi, KRL dilaporkan mengalami gangguan perjalanan. Ada insiden di perlintasan sebidang di sekitar Bulak Kapal yang membuat perjalanan kereta terganggu, hingga akhirnya rangkaian tersebut berhenti di jalur. Di titik inilah, situasi mulai menjadi rentan. Jalur yang seharusnya steril, ternyata masih bisa diakses oleh kereta lain.
Di sinilah pertanyaan mulai muncul.
Bagaimana mungkin dua kereta bisa berada di jalur yang sama, dalam jarak yang seharusnya tidak aman?
Sorotan juga datang dari DPR RI, Firnando Ganinduto, khususnya dari Komisi VI, DPR menilai kecelakaan ini harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap sistem keselamatan perkeretaapian.
DPR mendesak PT KAI untuk bertanggung jawab dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap teknologi yang digunakan, termasuk sistem deteksi jalur, sinyal, dan pengaman otomatis.
Dengan adanya sistem keselamatan berlapis, tabrakan antar kereta seharusnya dapat dihindari, sehingga perlu ditelusuri lebih lanjut apakah terdapat kegagalan sistem atau faktor lain dalam operasional di lapangan.
Sampai saat ini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama pihak terkait masih mengumpulkan data mulai dari rekaman perjalanan, kondisi sinyal, hingga kemungkinan faktor manusia di lapangan.
Kecelakan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur: Mengindikasikan Adanya Permasalahan Sistem Kereta Daripada Sekedar Human Error
Kalau ditarik sedikit ke belakang, kejadian ini tidak berdiri sendiri.
Sebelum tabrakan terjadi, KRL dilaporkan mengalami gangguan perjalanan. Ada insiden di perlintasan sebidang di sekitar Bulak Kapal yang membuat perjalanan kereta terganggu, hingga akhirnya rangkaian tersebut berhenti di jalur. Di titik inilah, situasi mulai menjadi rentan. Jalur yang seharusnya steril, ternyata masih bisa diakses oleh kereta lain.
Di sinilah pertanyaan mulai muncul.
Bagaimana mungkin dua kereta bisa berada di jalur yang sama, dalam jarak yang seharusnya tidak aman?
Sorotan juga datang dari DPR RI, Firnando Ganinduto, khususnya dari Komisi VI, DPR menilai kecelakaan ini harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap sistem keselamatan perkeretaapian.
DPR mendesak PT KAI untuk bertanggung jawab dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap teknologi yang digunakan, termasuk sistem deteksi jalur, sinyal, dan pengaman otomatis.
Dengan adanya sistem keselamatan berlapis, tabrakan antar kereta seharusnya dapat dihindari, sehingga perlu ditelusuri lebih lanjut apakah terdapat kegagalan sistem atau faktor lain dalam operasional di lapangan.
Sampai saat ini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama pihak terkait masih mengumpulkan data mulai dari rekaman perjalanan, kondisi sinyal, hingga kemungkinan faktor manusia di lapangan.